Archive for Agustus, 2008
Lebah
Senja itu, kala matahari akan segera angslup, tiba-tiba ada laki-laki yang datang menghampiriku. Belum lama aku mengenalnya memang, tapi aku berusaha akrab dengannya. Wajahnya yang gulana sangat jelas terpancar, ada sesuatu yang diharapkan untuk menjadi bagian dari hidupnya. Tapi sayang keraguan dan ketidakpercayaan diri telah merenggut hatinya terlebih dulu. (lagi…)
3 comments Agustus 30, 2008
Trafigh Linght
Sebenarnya sudah hampir enpat tahun aku ingin protes tentang Trafigh Light ini. Tapi pada siapa aku harus mengadu brooo. Kita kan tahu, ada berapa ratus juta Trafigh Light yang ada di Indonesia, tentunya mata dan otak kita tak akan mampu menghitungnya. Oke. Kita tidak usah bicara yang terlalu jauh.
Adalah kejadian malam tadi ketika aku menuju kota Banjarmasin, kalau tidak salah hitung aku menemui sekitar 9 lampu bangjo (sebutan orang jawa). Lantas kenapa hal itu menjadi pusat perhatian saya. Tapi sebelum aku jelaskan terlebih dahulu aku akan usul, mudahan diterima “bagaimana kalau semua lampu Trafigh Llight di setiap perempatan atau simpang tiga jalan di Kalimantan Selatan ini kita bongkar saja” . (Gimana usul saya broooooo). Ada beberapa alasan kenapa saya mempunyai pandangan sepeti itu. (lagi…)
1 comment Agustus 28, 2008
Sebuah Luka dari Kejamnya Waktu
detik yang berlarian menjadi cambuk api
perihnya mencadas di setiap lekukku
menjadi alir-alir darah, hingga
warna pertiwi semakin kabur
satu setengah abad yang lalu
suara merdu angin-angin masih menjala gendang telinga
petani-petani di petak-petak
kini,
waktu telah meleburnya
ladang-ladang
menjadi raungan mesin-mesin raksasa, angin
telah menjadi debu yang legam
aromanya bunga bangkai
di setiap senja
angin sejuk telah langka
“kemana kita memungut”
kicau burung menjelma deru mesin
tembang-tembang kenangan menjelma pop dan rokc
dan entah apa lagi
waktu telah mengajari kita menjadi buas
menjelma serigala dahaga
kaki langit, 2008
Add comment Agustus 26, 2008
Oh, Pak Karso.
Pak karso adalah mantan pejuang. Walau umurnya sudah hampir tujuh puluh tahun gurat-gurat keperkasaannya masih sangat jelas. Rumah sederhana yang ia tempati bersama istrinya, adalah potret bahwa jasanya tak ada harganya di mata para pemerintah. Tapi tetap saja, pak Karso akan memasang bendera merah putih saat hari kemerdekaan datang. Dan setiap tanggal 17 Agustus pak Karso dan teman-teman seangkatannya akan mengikuti upacara yang diadakan pemerintah kota di alun-alun. (lagi…)
Add comment Agustus 26, 2008
Lagu Sedih Pada Peringatan Hari Kemerdekaan.
Sore yang tiba-tiba. Seperti biasa aku bekerja di toko buku yang setiap hari menjadi rumahku. Beberapa kawan sedang belajar menulis cerpen dengan Sandy Firly dan Harie Insani Putra. Si Harie tiba-tiba menyeletuk, “Suur kita bikin acara malam ini, pesta sastra kemerdekaan”. Jujur saja walau kami tidak pernah merasa merdeka, tapi kami mempunyai kewajiban untuk melaksanakan peringatan berharga itu. (lagi…)
Add comment Agustus 22, 2008
Kota yang Jauh.
Minggu, Di kota Perenungan.
Malam yang muram, angin berhembus sedikit liar menembus dinding kamarku. Pikiranku tentang kota jauh yang akan aku datangi semakin menjalar di setiap ruas kepalaku. Aku mulai sibuk beberapa menit yang lalu. Mempersiapkan beberapa bekal yang segera aku masukkan ke dalam tas ransel. Ransel yang sudah sedikit usang dimakan waktu, rangsel yang aku beli ketika terakhir kali aku pergi ke kota mimpi. Sebuah kota yang hanya menjual barang-yang untuk memasukkan barang-barang. Ransel, tas kecil, karung dan semacamnya ada di sana. Aku sempat heran ketika pertama kali datang, hanya dua kali aku rasanya pergi ke kota mimpi. Terakhir mungkin tiga tahun yang lalu. Kota yang berjarak dua ribu mill dari kota tempat tinggalku. Beberapa buku catatan, pisau lipat dan alat mamasak sederhana selalu menemani perjalananku. Mie instan juga telor rebus telah disiapkan Vaberta siang tadi di markas tempat kami berkumpul. Malan kian menjauh, aroma pagi hampir terbaca tubuhku, ada beberapa yang masih aku persiapkan. Besok pagi aku akan menuju kota yang sama sekali belum pernah aku mengunjunginya. Hanya jalan yang lurus harus aku lewati, kata seorang teman yang mengurungkan niatnya untuk mengikuti ekspidisi kali ini. Persimpangan pertama belok kanan, juga persimpangan terakhir harus belok kanan. Hanya itu pesannya lewat telepon kemarin pagi. Ia mendadak sakit kaki, sama sekali tak dapat bergerak, sambungnya di telepon. Di luar semakin dingin. Ingatanku selalu saja mengarah ke petunjuk-petunjuk yang samar. Apa benar hanya belok kanan di persimpangan pertama dan juga belok kanan pada akhir persimpangan. Lantas gerbang kota yang akan kami tuju kelihatan dengan megah. Berbagai lukisan dengan ornamen ukir abad tujuh belas. Bebrapa patung jaman batu ada di setiap sudut kota. Atau justru kami akan menemui banyak persimpangan, dan tidak akan pernah sampai. Waktu istirahatku tinggal dua jam, pagi-pagi sekali aku harus menyusuri jalan. Untung saja mobilku selalu saja siap kapan saja. Beberapa jerigen bensin sudah aku persiapkan, kalau saja tak ada kedai bensin, aku akan tetap tenang. Mobil yang kubeli sekitar dua tahun yang lalu. Ketika ayahku menghadiahkan separo uang untuk memebelinya. Sisanya dari uang tabunganku. Mobil Hartop yang gagah, dari kecil memang aku ingin memilikinya. Aku tak mungkin tidur dalam waktu sesingkat ini. Kuseduh kopi, membaca buku untuk menunggu waktu berangkat ke markas. Vaberta munkin tetidur pulas di rumahnya, juga Alvon dan Meguel. Pagi-pagi sekali aku akan menjemput mereka di markas biasa kami berkumpul. Malan terus menjauh, bintang-bintang bagai kunang-kunang yang lelah. Bulan terlalu cepat pergi ke balik sunyi. Suara jangkrik terasa kering. Tidak ada tujuan yang penting ke kota itu. Untuk sebuah kepercayaan dari sekian cerita yang mendorong kami mendatanginya. Banyak yang bilang kota yang akan kami datangi adalah kota sepi. Hari-harinya berselimut kegelapan. Matahari hanya beberapa menit saja akan menyinggahkan sinarnya. Selebihnya gelap. Banyak perapian untuk mengganti hawa panas penduduknya. Kota yang bermisteri mungkin. Banyak cerita yang lain beredar dari mulut ke mulut. Ada yang cerita kalau kota itu adalah kota terindah, tak jauh dari pinggiran hutan, banyak satwa yang berdiam di seberang perbatasan. Air terjun setinggi pohon enau. Ikan-ikan bersayap selalu menjadi makanan penduduk pedalaman, mereka memaser, hanya dengan cara semacam itu untuk menangkapnya. Lantas mereka memakannya dengan sagu setelah membakarnya terlebih dulu. Air sungai yang bermuara di sungai besar yang membelah kota. Hanya itu alasan kami menuju kesana. Sebuah misteri dari kota yang jauh. Sebuah definisi yang tak pernah kami tangkap secara sempurna. (lagi…)
Add comment Agustus 13, 2008
Peserta Workshop Penulisan Kreatif Cerpen membanjiri panitia
Waktu pelaksanaan Workshop Penulisan Kreatif Cerita Pendek yang di selenggarakan Komunitas Sastra Indonesia cabang Banjarbaru dan ruMahcerita bekerja sama dengan Yayasan Raya Kultura Bogor tinggal 19 hari lagi. Sehari setelah pengumuman diterbitkan media patner surat kabar harian Radar Banjarmasin panitia di banjiri telepon dari calon para peserta. Sampai hari ini yang menyatakan untuk mengikuti sudah ada sekitar 45 peserta, yang berasal dari berbagai daerah di Kalselteng. Sebut saja dari Kab. Kotabaru, Tabalong, Rantau, Banjarmasin dan juga Palangkaraya. Workshop yang mendatangkan pemateri Naning Pranoto dan Sides sudyarto DS ini di dukung juga oleh Tahura media Advertoising. Kami sebagai panitia akan memberikan yang paling istimewa kepada para peserta, kami tidak memungut biaya sepeserpun, bahkan kami memberikan fasilitas snack dan juga sertifikat yang sekarang sedang diburu para pendidik. Bagi peserta umum. Workshop yang akan berlangsung selama dua hari, tanggal 23-24 Agustus di Banjarbaru. Untuk tanggal 23 Agustus diperuntukkan bagi kalangan pelajar SMP dan SMA sederajat, acara tersebut akan dilaksanakan di SMA 2 Banjarbaru. Sedangkan untuk tanggal 24 Agustus diperuntukan bagi Umum, Guru, Dosen dan Mahasiswa yang bertempat di Aula Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Kepada siapapun yang belum mendaftarkan segera saja menghubungi kami, karena kuota peserta terbatas, masing-masing kategori hanya 100 peserta. Hubungi kami di 085651040672 atau di Book Cafe ruMahcerita samping Museum Banjarbaru, Jln. Rajawali no.35. Hanya samopai tanggal 20 Agustus, setelah itu pendaftaran kami tutup.
GRAAAAAAATIIIIIIIIIIISSSSSSSSSS!!!!!!!!!!!!!
Add comment Agustus 6, 2008






