Museum Media Belajar di Luar Sekolah.

September 3, 2008

Tidak kita pungkiri, di Kalimantan Selatan ini, khususnya Banjarbaru telah banyak sekolah-sekolah formal dan non formal. Bahkan kota Banjarbaru merupakan kota pendidikan. Sebagai contoh saja lembaga pendidikan tumbuh dengan pesaat di pojok-pojok kota. Tetapi tidak menutup kemungkinanakan adanya tempat belajar dengan metode yang lain. Sebagai contoh semisal museum dijadikan tempat alternatif lain, sebagai sarana belajar di luar sekolah, maupun lembaga pendidikan yang terus berkembang. Semisal saja menjadi pusat pendidikan kesenian daerah atau tempat pengkajian kebudayaan bagi anak-anak sekolah. Tentunya hal itu akan menjadi sangat penting bagi perkembangan pengetahuan tentang sejarah suatu daerah. Museum merupakan gerbang sejarah perjalanan suatu daerah, maka dari itu tentunya potensi akan lebih besar pengaruhnya kepada masyarakat untuk lebih tau apa saja yang pernah di lakukan dan dimiliki nenek moyang mereka. Sekolah formal hanya akan mempelajari sedikit dari sekian banyak masalah sejarah peradaban, semua itu dikarenakan banyak hal yang harus dipelajari untuk mengejar target kurikulum. Memang sangat memprihatinkan bagi para penelola museum, karena rendahnya minat masyarakat untuk mengunjungi museum. Dan itulah satu kendala terberat untuk mengenalkan sejarah-sejarah yang tertumpuk dalam setiap ruangan museum.

Menurut Philippe saat menjadi pembicara pada seminar di ITB bandung mengatakan, salah satu persoalan yang dihadapi pengelola museum adalah rendahnya minat kunjungan warga. Parahnya, sebagian pengunjung merupakan “orang-orang yang dipaksa” dan yang termasuk dalam kelompok ini adalah para siswa sekolah yang hanya karena tuntutan sekolah untuk mengikuti program study tour. Maka oleh sebab itu, Philippe menekankan perlunya strategi mediasi yang disesuaikan dengan karakteristik pengunjung. Ia mengatakan salah satu metode yang tepat adalah pengelompokkan berdasar umur. Misalnya, untuk pengunjung berumur 45 tahun atau lebih lebih cocok diberikan bentuk mediasi dengan tulisan (makalah). Kelompok umur 25-40 tahun, mengandalkan mediasi tulisan (makalah) dan audio visual (vcd, kaset). Sedangkan, untuk pengunjung berumur kurang dari 25 tahun, disebut juga generasi “haus pengetahuan” sangat tidak cocok dengan media tulisan. Jadi untuk kelompok umur yang seperti itu ada baiknya langsung pada pengamatan, juga tidak mengesampingkan media tulisan dan audio visual. Adapun tujuan mediasi adalah sebagai penghargaan budaya lokal, membangun kepekaan terhadap benda pusaka dan budaya, serta sumber inspirasi bagi masyarakan juga seniman.

Sementara itu, seorang Desainer Interior Ahadiat Joedawinata yang membawakan makalahnya mengenai fenomena adanya pameran di dalam lingkungan museum. Menurut Ahadiat, tujuan seseorang mengunjungi museum adalah guna mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang menghasilkan makna-makna dengan melalui berbagai proses pengamatan. Tentunya dengan cara melihat dan menyaksikan pameran dari benda-benda koleksi museum beserta penjelasan-penjelasannya. “Bilamana tujuan dari pengunjung tersebut tidak terpenuhi, maka museum dapat dikategorikan tidak memenuhi fungsinya sebagai fasilitas publik” begitulah pendapat Ahadiat. Ahadiat menambahkan, terdapat perbedaan esensial antara pameran dalam suatu museum dengan pameran-pameran yang digelatadi tempat-tempat lain. Perbedaan ini muncul karena setiap pameran memiliki sasaran informasi dan komunikasi, isi dan misi informasi yang spesifik dan berbeda antara satu dengan yang lain. Perbedaan ini pada gilirannya akan menyebabkan perbedaan media yang tepat dan efektif untuk digunakan dalam penyampaiannya. Maka dari itu peranan museum sudah sangat jelas diperlukan sekali untuk pengetahuan di luar pendidikan sekolah. Segala aset yang ada di museum belum tentu masuk dalam kurikulum sekolah. Tentunya para siswa akan mendapatkan itu semua dengan belajar lanngsung ke museum. Tapi terkadang pelajar juga masyarakat akan sedikit enggan datang kalau tidak ada daya tarik yang lain, yang bisa mereka dapatkan ketika datang ke museum itu sendiri. Akan ada semacam kejenuhan, karena para pengunjung hanya akan menyaksikan barang-barang yang itu-itu juga.

Beberapa Alternatif yang bisa dikembangkan di Museum.

A. Mendirikan Sanggar Seni dan Budaya yang dikelola oleh Museum.

Kehidupan masyarakat tidak akan lepas dari kesenian, lantas di mana mereka akan mendapatkan itu. Tentunya di sebuah sanggar atau lembaga kesenian juga komunitas-komunitas di luar tempat kerja mereka atau sekolah. Museum sebagai pintu gerbang kabudayaan dan sejarah punya tanggung jawab untuk memperhatikan hal semacam itu, tentunya untuk lebih memfokuskan sebagai wadah pengembangan dan pengenalan kebudayaan dan sejarah. Hal semacam itu harus ditunjang dengan adanya tempat pendidikan atau sebut saja sanggar. Disamping menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung karena ada kelebihan yang dimiliki, kebudayaan tak akan punah sampai pada generasi akan datang. Apalagi kalau pihak pengembangan museum selalu mengadakan pentas pada jadwal yang sudah ditentukan, dengan bekerjasama dengan sekolah-sekolah sebagai penonton sekaligus memberikan pelatihan kepada para muridnya. Tentunya hal semacam itu menjadi sangat menarik bagi kalangan masyarakat luas. Masyarakat yang datang ke museum akan menikmati barang-barang sejarah juga kebudayaan yang berupa tontonan. Itu hanya salah satu strategi bagaimana menarik pengunjung ke museum. Museum harun berani jemput bola untuk mempertahankan apa yang diinginkan oleh masyarakat luas. Tentunya juga dengan penkajian yang matang.

B. Mengadakan Pertunjukan Seni dan Budaya yang sudah Langka.

Melestarikan kebudayaan dan kesenian yang semakin punah juga bagian tanggung jawab museum, alasan ini saya kemukakan karena museum bertanggung jawab sebagai sarana kepada masyarakat luas. Tidak harus di laksanakan setiap minggu, namum minimal setiap bulan sekali museum menggelar kesenian dan budaya yang sekarang sudah jarang ditemui masyarakat, yang telah tergusur budaya pop dan televisi.

Semisal menggelar pertunjukan mamanda anak-anak pada hari minggu, lantas anak-anak sekolah diundang sebagai penonton. Selanjutnya mereka kita bawa ketempat penyimpanan benda bersejarah, lantas pegawai museum akan menjelaskan sejarah yang terkandung di dalamnya. Karena penjelasan tentang sejarah kebudayaan tidak bisa hanya diraba saja atau dilihat, namun harus dijelaskan secara detail dan runtut. Dan tentunya ahanya petugas di museum yang faham betul dengan semua benda sejarah yang tersimpan di dalam museum.

Sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, mereka sekarang semakin sulit menemukan pertunjukan balamut, bagandut, balogo, bagasing (di Kalimantan Selatan) dan juga pemainan atau tradisi langka. Hal semacam itu adalah salah satu tanggung jawab museum untuk terus melestarikan. Walau sebenarnya Dinas Pariwisata juga punya tanggung jawab. Tapi apa yng terjadi di era saat ini, Dinas Pariwisata akan mengadakan pertunjukan-pertunjukan tersebut kalau ada proyek saja.

Bagaimana bila pemerintah tidak pernah mengalokasikan anggaran untuk hal semacam itu, saya yakin lima tahun yang akan datang seni budaya tradisional akan hilang dari tanah lahirnya.

Kemudian untuk menghindari hal semacan itu, museumlah yang wajib melestarikan sebagai lembaga yang lebih spesifik menjaga seni dan budaya serta sejarah suatu daerah (Kalimantan).

C. Menjalin Hubungan dengan Komunitas dan Sanggar Seni.

Langkah yang lain adalah menjalin hubungan dengan Komunitas dan Sanggar Seni yang ada di lingkungan, di mana museum itu ada. Tentunya hal itu menjadi jembatan untuk meringankan pekerjaan pihak museum. Museum tinggal menyediakan fasilisas (peralatan, tempat), lantas Sanggar atau Komunitas yang membina masyarakat, di bawah pengamatan dan tanggungjawab museum. Dengan metode seperti itu kesinambungan antara masyarakat luas dan museum tetap akan terus terjaga. Sanggar yang ditunjuk bertanggungjawab atas pendidikan yang harus mereka belajarkan kepada murid-murid di sanggar tersebut. Tentunya tidak hanya satu fokus pelajaran yang harus dimengerti oleh murid. Pengajar juga harus menjelaskan benda sejarah yang ada di museum. Bagaimana si pengajar mampu membangun imets terhadap masyarakat melalui anak didiknya. Ketika hal semacam itu telah terbangun, museum akan menjadi tempat yang ramai dikunjungi masyarakat luas.***

Entry Filed under: esai. .

3 Comments Add your own

  • 1. sandi  |  September 3, 2008 at 7:52 pm

    Serius sekali tulisannya, Sur…
    semangat benar. Baguslah…

    salam

    Balas
  • 2. ManusiaSuper  |  September 4, 2008 at 11:24 am

    dulu, saya dan temen2 sering bikin jokes “mau tempat pacaran murah, sepi, deket, enak?”

    jawabannya “ke museum!”

    Balas
  • 3. ahsani taqwiem  |  September 5, 2008 at 3:49 am

    lirik komen mansup…
    TERNYATA!

    Balas

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Lembaran

Sponsor Blog Ini




Jadwal KEhidupan

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Penaku

kata mereka

benkyongeblog di aku menuju darah dan air …
Rizal di aku menuju darah dan air …
wong jowo di Budaya Jujuran menjadi Momok P…
kejarsetoran di Hai Kenapa Harus PNS sih?
Jiwa Teater di Buku Tamu

tulisan teratas

sahabat-sahabat yg mampir

Blogroll

RSS sajak-sajak Isuur (meghatruh) loeweng S

Jangan asal copy paste ya..

isuur loeweng s komet

Arsip