Banjarbaru VS Pendidikan?
November 26, 2008
Kota Banjarbaru yang selalu dibicarakan orang sebagai kota pendidikan selalu saja membuat saya tidak nyaman, mungkin juga masyarakat yang lain. Ada berbagai alasan yang menjadikan saya terkadang sangat tidak familier mendengar ucapan “Kota Pendidikan”. Oke kalau itu menjadi sebuah cita-cita, karena siapapun dibebaskan untuk mengucapkan cita-citanya kepada orang banyak tak terkecuali kota Banjarbaru. Tapi apakah tidak berlebihan kalau saat ini kota Banjarbaru sudah mempublikasikan sebagai kota pendidikan. Sementara kita semua tahu apa yang terjadi di lapangan sangat jauh berbeda. Satu hal yang menjadikan bukti adalah tingkat kelulusan. Benerapa tahun terakhir ini tingkat kelulusan yang sangat rendah. Tahun 2007 adalah tahun yang paling memiriskan hati bagi masyarakat Banjarbaru. Betapa tidak, Banjarbaru menyisakan banyak anak-anak sekolah yang seharusnya sudah lulus. Tetapi mereka harus menundanya, karena memang nilai yang mereka hasilkan dalam ujian tidak memenuhi standar kelulusan. Siapa yang harus disalahkan. Apakah kota Banjarbaru yang terlalu dini mengembor-gemborkan sebagai kota pendidikan. Pendidik yang setiap hari memberikan pelajaran kepda mereka, atau justru murid-murid tersebut. Ini menjadikan pertanyaan yang harus kita jawab bersama, kalau cita-cita kota Banjrabaru akan terwujud.
Untung saja dari sekian banyak yang tidak lulus. Masih ada yang berbesar dan satu-satunya jalan bagi mereka untuk mendapatkan ijasah adalah program kejar paket. Lantas ketika mereka sudah mendapatkan itu, sampai manakah ijasah tersebut akan membantunya. Kita thu jaman sekarang banyak pengangguran yang mempunyai ijasah sah dari sekolah atau perguruan tinggi. Apalagi yang hanya mempunyai ijasah kejar paket, tentunya hal itu akan menyulitkan mendapatkan pekerjaan. Apakah hanya sebatas itu kota Banjarbaru sebagai kota pendidikan dalam menghasilkan lulusan. Tentunya ketika kita menanyakan itu kepada instansi terkait akan menjawab tidak. Mereka akan menyebutkan beberapa dalih sebagai kambing hitam atas rendahnya kelulusan tersebut.
Sebagai bukti adalah kejadian berapa tahun yang lalu, pemerintah kota banjarbaru pernah tidak mengeluarkan ijin keramaian saat menjelang ujian. Alasan dari semua itu adalah menggangu anak-anak sekolah belajar. Itu merupakan imbas dari buruknya kelulusan tahun sebelumnya. Tetapi menurut saya semua itu hanya menjadi kambing hitam saja, sebab ada keramaian dan tidak keramaianpun anak-anak sekolah tetap saja berkeliaran pada jam-jam belajar. Menurut saya orang tualah yang berkewajiban menegur dan mengarahkan anak-anaknya. Juga memastikan mereka tetap belajar pada jam-jam itu. Tentunya dengan hal semacam itu, semua orang tua telah melakukan upaya mewujudkan cita-cita Banjarbaru menuju kota pendidikan.
Di sisi lain, kalau kita berbicara tentang fasilitas pendidikan, Banjarbaru memang berkembang sangat pesat. Dalam dua tahun terakhir ini lebih dari sepuluh lembaga pendidikan tumbuh di Banjarbaru, lembaga pendidikan yang bersifat prifat maupun umum. Banyak juga les prifat yang langsung mendatangkan ahli ke rumah. Bahkan itu sudah berkembang sangat cepat. Hal semacam itu saya anggap sesuatu yang bijaksana dari orang tua untuk membantu Banjarbaru menuntuaskan cita-citanya. Tapi apa yang dilakukan lembaga pemerintah lewat kebijakan-kebijakan yang terkadang menyulitkan proses belajar-mengajar di sekolah. Atau bahkan para oknum lembaga pendidikan mempunyai kebijakan sendiri yang sangat menyulitkan peserta didik. Banyak sekali kebijakan yang membuat motifasi belajar menjadi berkurang. Dan yang paling terlihat adalah masih saja adanya pemungutan yang berkedok untuk pembangunan atau apa saja. Padahal negara telah mengucurkan dana BOS(Bantuan Operasional Sekolah) untuk setiap sekolah seluruh Indonesia. Dengan adanya banyak tanggungan yang harus dibayarkan ke sekolah banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh orang tua murid untuk kelancaran anaknya belajar. Padahal pemeritah pernah berjanji akan membebaskan biaya pendidikan. Bebas yang seperti apa Bung. Apakah kebebasan memungut sumbangan terhadap orang tua murid.
Juga banyaknya sarana penunjang pendidikan tidak berfungsi, padahal sarana tersebut sangat menunjang kemajuan pendidikan. Adalah perpustakaan pemerintah kota yang berada di jalan wijaya kusuma. Sebuah mobil perputakaan bantuan dari pusat sekarang telah menjadi sarang tikus. Bagaimana tidak. Mobil yang seyogyanya digunakan untuk perpustakaan keliling tapi lebih banyak manggrok di garasi. Yang paling mengejutkan adalah, ketika saya mencoba menanyakan kepada salah satu karyawan di perpustakaan, saya mendapatkan jawaban yang tidak masuk akal. Seorang pegawai perpusakaan mengatakan kalau sopir yang seharusnya membawa mobil untuk keiling jarang datang melaksanakan tugasnya. Tapi yang lebih mengagetkan setiap waktunya gajian selalu datang lebih awal.
Yang menjadi pertanyaan saya, kenapa pihak perpustakaan tidak mencari penggantinya? Pertanyaan itu tidak pernah saya dapatkan jawabannya.
Bagaimana masyarakat akan dapat menikmati apa yang seharusnya mereka nikmati. Sebab tidak semua masyarakat Banjarbaru bisa berkunjung ke perpustakaan. Harusnya perpustakaan itu selalu mempublikasikan buku-bukunya yang ada. Sebagai sarana yang paling mudah adalah dengan mobil perpustakaan keliling tersebut. Karena dengan itu bisa mencapai daerah pelosok. Pernah awal dulu, ketika mobil perpustakaan keliling baru di serahterimakan. Beberapa kali terlihat di taman Van der Piejl Banjarbaru. Padahal menurut saya yang paling penting adalah daerah pelosok untuk menunjang pengetahuan masyarakat. Itu salah satu metode untuk membantu pencapain cita-cita kota Banjarbaru. Tidak hanya sekolah dan lembaga pendidikan di luar sekolah yang mempunyai kewajiban. Perpustakaan juga punya tanggung jawab atas semua itu. Bahkan masyarakat luas yang merasa orang Banjarbaru juga memepunyai kewajiban mendorong cita-cita luhur tersebut. Apalagi baru-baru ini, orang nomor satu di Bnajarbaru akan mengusahakan kampus terbesar di bumi Lambung Mangkurat ini akan dipindahkan ke Banjarbaru secara keseluruhan. Artinya pewujudan kota Banjarbaru sebagai kota pendidikan tidak hanya wacana belaka.
Masih banyak hal yang harus dilakukan kalau Banjarbaru benar-benar ingin disebut sebagai kota pendidikan. Perjalanan yang saat ini sudah berjalan, belum sampai pada 40% pencapaian cita-cita tersebut. Banyak hal yang bisa dilakukan masyarakat luas, salah satu contoh di Banajarbaru ini ada ratusan anak usia sekolah. Tapi sayang mereka tidak bisa menikmati enaknya bersekolah karena alasan ekonomi. Artinya bagi warga Banjarbaru yang merasa ada rezeki lebih, akan lebih baik dan sangat mulia apabila mau membantu mereka. Juga dorongan orang tua kepada anak-anaknya untuk giat belajar dan pemantauan kegiatan anak selepas sekolah usai.
Mari kita terus berjuang untuk Banjarbaru, agar suatu saat telinga saya nyaman apabila ada orang yang mengatakan bahwa Banjarbaru adalah “Kota Pendidikan”.
Bagaimana Menurut Anda ???
Entry Filed under: tulisan sederhana. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed







1. Refa | November 27, 2008 at 4:00 am
menurutku kalo tujuannya sbg motivasi atau cita2 ke depan, ok lah meski berat konsekuensinya, spt yg anda tuliskan.
Aku pernah denger juga julukan itu dikarenakan banjarbaru memiliki banyak lembaga pendidikan baik yg formal maupun non formal, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan2 tinggi baik negri maupun swasta.
kalo itu alasannya mungkin memang wajar ya. tapi menurutku mending dijuluki kota seribu ruko saja, karena pertumbuhan ruko lebih cepat daripada pertumbuhan lembaga pendidikan.
2. warmorning | November 28, 2008 at 2:19 am
arghhh. perpustakaan yang kurang perhatian lagi…
semoga yg mengelola akan sadar sesadarnya..