Untungnya Apa Sih?
November 27, 2008
Sungguh ironis memang ketika melakukan sesuatu sudah diawali dengan polemik, politik dan juga strategi. Akan banyak kemungkinan terjadi gesekan sana-sini apabila semua itu menjadi tidak sehat. Persaingan dalam mendapatkan tempat yang layak bagi diri masing-masing memang sangatlah tidak gampang, berbagai politik akan dilakukan oleh setiap konseptor atau pencipta agar keinginannya terpenuhi. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Sudah hampir tiga tahun lebih gesekan-gesekan menjadi santapan yang sangat umum. Sebenarnya induvidu atau kelompok-kelompok itu hanya ingin menjalankan metodenya masing-masing. Tidak lebih dari itu. Lantas mereka yang salah tanggap akan mengartikan lain. Hal semacam itu bagian dari sebuah politik untuk menempatkan dirinya dalam puncak-puncak perhatian dan pembicaraan publik. Tidak salah memang selama tujuannya jelas.
Kalau berbicara tentang bersastra, Kalimantan Selatan termasuk gudangnya pesastra. Tetapi perlu juga kita tanyakan kembali, pesastra yang seperti apa, apakah mereka benar-benar ingin bergelut dalam dunia sastra atau hanya mengikuti arus angin berhembus. Hampir setiap tahun akan ada nama baru yang datang di kancah perkembangan sastra di sini. Mereka yang lahir dari kalangan kampus, sanggar,komunitas bahkan dari jalanan. Entah dalam penulisan sajak ataupun cerpen. Lantas mereka akan merasa menjadi bagian dari sasatrawan. Kalau sudah seperti itu sastrawan itu definisainya seperti apa(sedikit meminjam kalimat Sandi Firly). Bahkan ada juga yang pernah mengatakan bahwa sastrawan di negara ini hanya karbitan Menurut saya itu sah-sah saja. Tetapi mereka yang mengatakan hal semacam itu, sebenarnya telah menimbulkan sebuah masalah. Tetunya dalam perkembangan sastra di daerah tersebut. Sebab tidak berfikir akan efek apa yang telah ia katakan. Hingga akhirnya mereka yang tidak menerima tuduhan semacam itu akan menjauhinya. Akan banyak goncangan yang terjadi, hingga akhirnya akan mucul kelompok-kelompok yang saling menjegal. Hal semacam itu menjadi mungkin karena tidak bisa kita pungkiri bahwa kita ini ternyata mempunyai budaya anti kritik dan mau menang sendiri(tapi tidak semua). Hal semacam itu menjadi pemicu hubungan untuk saling menjauh antar induvidu. Apalagi ketika pemikiran sudah jauh berbeda, akan menjadi sebuah polemik yang sulit untuk disatukan.
Di tempat kita ini, hal semacam itu sudah merambah di banyak sisi kegiatan, tidak hanya dalam dunia sastra saja. Bahkan sudah sampai pada bidang kesenian secara menyeluruh, dan kini telah merambah lembaga yang menaungi semua bidang tersebut. Banyak hal yang selalu menjadi perbincangan atas tidak kepuasan dan ingin menang sendiri dalam medapatkan sesuatu. Yang ujung-ujungnya setelah kita kaji adalah finansial. Tidak jarang kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan adalah untuk sebuah proyek kelompok maupun induvidu. Dan politik yang digunakan adalah menjalin pedekatan secara persuasif hingga pada tingkat pengabdian sebagai anak buah, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Terkadang aneh memang, kalau kita berbicara tentang bantuan dari pemerintah, bukankah kita sebagai warga negara mempunyai hak yang sama. Terus kenapa hal semacam itu harus terjadi yang ujung-ujungnya hanya akan memecah belah pesatuan antar kelompok-kelompok tertentu. Yang sebenarnya semua itu berhak mendapat pengayoman dari pemerintah.
Yang paling ironis adalah, setiap kelompok atau induvidu yang dianggap tidak satu pemikiran akan selalu saja tidak ditinggalkan dalam kegiatan apapun. Atau menarik diri untuk tidak terlibat di dalamnya. Hanya beberapa saja yang mencoba untuk menyatukan pergolakan yang terjadi. Hasilnya juga sama saja. Kalaupun itu terwujud akan memerlukan waktu yang panjang, di tempat kita banyak pekerja seni yang kritis terhadap apapun yang tidak sejalan dengan pikiran masing-masing pekerjanya. Juga banyak yang mengatakan bahwa linkungan kesenian dan sastra hampir mempunyai pemikiran yang kritis. Jadi sangat sulit untuk menyatukan orang yang sama-sama kritis tersebut.
Tidak sedikit yang harus menyingkir dan mencoba mengadu nasibnya dengan usaha dan proses yang menurutnya baik. Hal semacam itu lebih banyak didasari dari kekecewaan. Dengan pertanggungjawabannya adalah, sebuah pembuktian bahwa dirinya juga mampu berdiri dan terus berproses. Untuk mendapatkan tempat yang layak di mata publik. Hal itu berujung dengan banyaknya komunitas-komunitas baru, sekedar ingin mencuri perhatian, setelahnya akan tenggelam lagi. Hal semacan itu sudah sangat umum terjadi.
Padahal banayak hal untuk meminimalkan masalah dalam berkesenian. Sebab apapun yang kita lakukan tujuannya sama, mengangkat dan memajukan nama derah lewat apa yang kita geluti. Artinya untuk mengakhiri permasalahan saling cakar-mencakarnya para ahli (menurut pengakuan pribadi) hanya satu jalan. Mendapatkan hak dan pengayoman yang sama dari pihak terkait. Jangan sampai merasa ada yang dianak tirikan atau dianak emaskan. Pemerintah melalui lembaga yang berwenang harus sering melakukan pendekatan dan sharing dengan mansyarak kesenian secara menyeluruh. Agar permaslahan yang terjadi bisa diselesaikan bersama. Bukan malah menjauhi dan meninggalkan secara sepihak.
Bagaimana Menurut Anda?!!!!
Entry Filed under: tulisan sederhana. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed







1. warmorning | November 28, 2008 at 2:16 am
masalah pengkastaan memang selalu bikin puyeng, mas.
padahal kan intinya adalah sang karya itu sendiri..
pola fikir orang memang beda-beda, dan aneh !!
2. Sarah Luna | November 28, 2008 at 7:28 am
Setujuu mas isur.. Yang penting lestarikan budaya kita.. jangan pada sibuk cakar-cakaran… Huh!!..