Archive for Desember, 2008

Ber-Amal dengan Syarat.

dsc00533Senja mulai melangkah ketika seorang ibu muda yang menggendong anaknya datang ke tempat biasa saya bekerja. Awal mulanya saya mengira ibu tadi akan menyewa buku atau sekedar membaca buku koleksi Book Cafe yang selalu saya tunggui. Tidak berselang lama kira-kira satu menit, dengan ragu-ragu, juga sedikit takut si ibu muda tadi memberanikan ngomong kepada saya. Berawal dari menanyakan apakah saya tinggal di sini (Book Cafe) atau di tempat lain (Rumah).
Saya pun mengatakan kalau saya tidak menginap di Book Cafe melainkan pulang ke rumah di bilangan haji Idak. Eh ternyata si ibu muda tadi tidak tau daerah saya tinggal, atau memang daerah saya tidak terkenal ya. Karena ibu tadi tampak ragu-ragu mengutarakan keinginannya, akhirnya saya menanyakan maksud dan tujuan mendatangi tempat saya kerja.
Dengan berat hati, sambil sedikit berlinang ibu muda tadi menceritakan apa yang sedang dialaminya. Menurut beliau suaminya yang kerja di Amuntai (daerah yang baru saja digegerkan video adegan mesum) lama tidak pulang ke Banjarbaru. Lantas ia bermaksud untuk menyusulnya, karena anaknya sakit (sambil ia memperlhatkan anaknya yang kurus kepada saya). Akhirnya sampailah pada tujuan utama, bahwa si ibu muda tadi (maaf saya tidak tahu namanya, sengaja saya tidak menanyakan) bermaksud meminjam uang kepada saya. Nah itu masalahnya, kenapa harus kepada saya, padahal saya bukan bank tempat simpan pinjam.
Tidak terlalu lama saya berpikir, tapi sebelum saya menyerahkan uang sebesar Rp. 50.000 terlebih dulu saya tanyakan berapa ongkos taksi ke kota Itik itu. Lantas si ibu muda tadi mengatakan Rp.40.000. Selanjutnya saya membuat perjanjian, karena saya tidak mau kena tipu. Saya menanyakan di mana beliau tinggal, ternyata beliau indekos di belakang TK Sandy Putra Banjarbaru.
Seperti di tempat simpan pinjam yang lain syarat-syarat harus ada. Begitu juga dengan saya, saya mengajukan satu syarat kalau ibu itu akan mendapatkan kucuran dana dari dompet saya. Yang sejatinya itu juga bukan uang saya. Tetapi uang tempat saya bekerja yang kebetulan masih saya bawa, karena bos belum datang.(tapi saya ganti lhooo)
Syarat yang saya ajukan tidaklah berat, saya cuma minta ibu muda itu akan menggunakan uang seperti apa yang ia bilang (untuk ongkos taksi ke Amuntai). Akhirnya beliau berjanji kepada saya. Karena senja akan segera merapat dan saya takut ibu muda tadi kemalaman saya berikan uang Rp. 50.000 tadi tanpa harus mengembalikan, artinya saya beri dengan segala keiklasan saya.
Saya juga mengatakan kalau uang itu digunakan tidak seperti yang beliau sampaikan saya tidak akan pernah ikhlas memberikan uang tersebut dunia akherat. Dengan mengucapkan terimakasih sambil mengusap air matanya ibu muda tadi pergi meninggalkan saya.
Ku tatap punggungnya lantas aku mengelus dadaku siapa yang salah sebenarnya. Suaminya yang terlalu lama tidak pulanh atau istrinya yang mau ditinggal kerja jauh.

9 comments Desember 26, 2008


Lembaran

Sponsor Blog Ini




Jadwal KEhidupan

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Penaku

kata mereka

benkyongeblog di aku menuju darah dan air …
Rizal di aku menuju darah dan air …
wong jowo di Budaya Jujuran menjadi Momok P…
kejarsetoran di Hai Kenapa Harus PNS sih?
Jiwa Teater di Buku Tamu

tulisan teratas

sahabat-sahabat yg mampir

Blogroll

RSS sajak-sajak Isuur (meghatruh) loeweng S

Jangan asal copy paste ya..

isuur loeweng s komet

Arsip