Rehab Balairung Sari, Munculkan Kontrofersi.

Februari 7, 2009

Di akhir tahun 2008 yang baru saja lewat, Taman Budaya Kalimantan Selatan (TBKS)mempunyai hajat besar. TBKS merehab 90% bangunan yang ada di komplek TBKS, salah satunya adalah gedung pertunjukan Balairung Sari. Namun setelah rehab gedung sudah mencapai 95% banyak hal yang dianggap tidak memenuhi standar gedung pertunjukan. Beberapa waktu yang lalu, ketika tim pemantau melihat hasil perehaban TBKS tidak banyak komentar atas apa yang dihasilkan pihak kontraktor dan TBKS. Tetapi di luar itu, orang-orang yang akan menggunakan fasilitas Balairung Sari setelah nantinya dioperasikan banyak yang mengeluh. Hal utama yang di keluhkan adalah kelemahan akustik gedung. Hal itu sangat dirasakan oleh aktor kawakan Kalsel Yadi Muryadi yang kebetulan mempunyai kesempatan untuk menjajal akustik Balairung Sari saat latihan teater. Ternyata suara yang dihasilkan menggema. Bahkan volume gema mencapai tiga detik. Dalam hal itu Yadi mengungkapkan bahwa akustik yang sekarang lebih buruk dari sebelumnya. Menurutnya aktor akan sangat tersiksa dengan keadaan gedung yang seperti itu.

Akhirnya untuk membuktikan hal itu saya juga pernah mencoba masuk ke dalan Balairung Sari, dan melakukan hal senada. Hasilnya memang sama seperti yang dibicarakan kawan-kawan lain. Hal semacam itu akan menjadikan kesulitan yang luar biasa apabila gedung sudah dipakai pertunjukan. Namun sejauh ini TBKS belum ada tindakan apapun atas pembicaraan di luar TBKS oleh sebagian pekerja kesenian. Beberapa kawan yang sempat saya tanya, banyak yang memberikan gambaran kenapa akustik Balairung Sari menjadi menggema. Dari sekian kawan , ada yang mengatakan bahwa biang keladi gema berasal dari plafon di panggung utama. Bahkan ada yang mengatakan plafon itu akan menyulitkan para kru pertunjukan apabila suatu saat harus memasang set dari atas. Lantas ada juga yang mengatakan dinding belakang panggung utama, karena adanya ornamen yang menggambarkan pintu di back drop mengakibatkan suara yang dihasilkan tidak bulat. Termasuk kurngnya pemasangan peredam suara di setip dinding gedung.

Akhirnya yang menjadi pertanyaan dalam diri saya atas rehab TBKS khususnya Balairung Sari belum terjawab. Saya juga tidak pernah tahu, gedung pertunjukan mana yang menjadi acuan pikah TBKS ketika memutuskan untuk membuat kontruksi seperti itu. saya justru berprasangaka, arsitek yang merancang rehab gedung Balairung Sari bukan arsitek gedung pertunjukan. tetapi lebih cenderung arsitek gedung pernikahan. Karena selama saya berkesenian di manapun, saya belum pernah menemukan gedung pertunjukan yang paggung utamanya menggunakan plafon. Sebab itu akan menjadi masalah, tidak hanya untuk kebulatan suara saja tetapi juga menjadi masalah bagi kru pertunjukan. Namun sepertinya pihak kontraktor_perancang bangunan dan TBKS tidak memperhitungkan itu. Tetapi saya juga tidak tahu, kalau pihak TBKS mempunyai pemikiran lain setelah semua selesai, itu kewenangan pihak TBKS. Karena saya melihat gedung Balairung Sari sekarang sangat kental dengan nuansa gedung pemerintahan. Akan lebih lengkap lagi kalau nantinya gedung itu dioperasikan sebagai tempat resepsi pernikahan. Sebab mereka tidak memikirkan tentang akustik, dan artistik tetapi yang dipikirkan adalah tempat nyaman dan makan enak.

Kalau pihak TBKS tidak segera merespon isu-isu yang terus berkembang tentang kelemahan Balairung Sari. Yang tentunya akan mengganggu proses kreatif para pekerja seni kedepanya, menurut saya itu akan memunculkan masalah baru bagi TBKS. Dan mnurut saya pihak TBKS harus rela mengalah demi perkembangan kesenian di Kalsel. Hal itu harus segera dilakukan mengingat para pekerja seni ingin sekali bisa meluapkan kerinduan bermain di gedung kebaggan masyarakat kesenian Kalsel. Namun kalau hal itu hanya dibiarkan, dengan alasan sudah terlanjur dan sudah tidak adanya anggaran dana, maka TBKS harus siap menanggung resiko apabila para pekerja seni tidak tertarik menggunakan fasilitas tersebut. Akhirnya pemeritah yang mengucurkan dana, tidak akan percaya dengan kerja TBKS.

Di sisi lain memang sudah mengalami perubahan yang bagus, seperti sound system, lantai panggung yang sekarang sudah diganti finel, juga perangkat lighting yang baru. Namun saya masih melihat beberapa lampu yang baru, lebih cenderung lampu untuk pertunjukan musik. Saya pun tidak tahu, kenapa pihak TBKS memutuskan untuk memasang lampu jenis itu. Di luar perangkat panggung pihak TBKS sepertinya akan memberikan kenyamanan bagi penonton, itu terlihat dari adanya mesin pendingin ruangan (AC) terpasang di dalam gedung. Harapan TBKS mungkin kedepan, gedung Balairung Sari akan dikondisikan bebas asap rokok. Tapi bagaimana menurut anda?

Banyaknya persoalan yang berkembang sebelum gedung itu diresmikan adalah bola api bagi TBKS. Apabila TBKS tidak segera memadamkan api tersebut, saya sakin bertahun-tahun api akan etap menyala. Dan karena hal itu tidak mengunungkan bagi para pekerja seni, ada kemunkinan mereka akan mencari tempat yang lain untuk berkegiatan. Lantas siapa yang harus disalahkan.

Bagaimana menurut Amda?

Entry Filed under: Uncategorized. .

7 Comments Add your own

  • 1. Rizal  |  Februari 7, 2009 at 1:40 pm

    Mungkin 0rang2 diluar sana akan bertanya-tanya. Ini gedung kesenian atau gedung pernikahan/perkawinan?

    Karena setiap miggu tak pernah lepas dari acara resepsi perkawinan…

    Balas
  • 2. syafwan  |  Februari 7, 2009 at 5:29 pm

    Kemegahan terkadang simbol keserakahan. Kenapa uangnya nga buat pembinaan aja ya. Biar kegiatan seni lebih wah

    Balas
  • 3. soulharmony  |  Februari 8, 2009 at 4:12 am

    berapa duit ?

    Balas
  • 4. benkyongeblog  |  Februari 10, 2009 at 8:06 am

    hmmmm…. *sambil mikir*
    knp bisa begitu ya????

    Balas
  • 5. dendin  |  Februari 11, 2009 at 4:03 am

    itu kan mendukung fatwa larangan merokok bang heheheh… tapi seniman dan rokok memang tidak bisa di pisahkan …….

    Balas
  • 6. desta  |  Februari 15, 2009 at 7:15 pm

    Salam kenal mbaak.., saya desta.hehe

    Gedung TBKS mempunyai beberapa kendala, menurut saya. Wacananya, gedung tersebut difungsikan sebagai tempat untuk menggelar pertunjukan-pertunjukan seni. Namun, lagi-lagi sebuah fungsionalis dari sebuah sistem yang dibangun menjadi salah arah. Salah dalam kendala teknis tentunya. Selain itu saya rasa kurang tepat bila kita hanya menyalahkan perancang ataupun pihak gedung yang berperan menjadi fungsionalis. Sebuah sistem yang menjalankan fungsionalis tersebut juga harus kita kaji dan kita perbaiki.

    Oya, mo beri saran, boleh mbak? hehe

    Paragraf pertama, banyak kalimat yang belum selesai. Setelah kalimat pertama tidak dijelaskanya acara yang di selenggarakan oleh TBKS. Semoga bisa diperjelas lagi.
    mo nanya lagi, boleh? hehe

    Balas
  • 7. isuur loeweng  |  Februari 16, 2009 at 12:41 pm

    bwat desta, saya laki-laki jadi jangan mbak ya. ok terimakasih atas perhatiannya

    Balas

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Lembaran

Sponsor Blog Ini




Jadwal KEhidupan

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Penaku

kata mereka

benkyongeblog di aku menuju darah dan air …
Rizal di aku menuju darah dan air …
wong jowo di Budaya Jujuran menjadi Momok P…
kejarsetoran di Hai Kenapa Harus PNS sih?
Jiwa Teater di Buku Tamu

tulisan teratas

sahabat-sahabat yg mampir

Blogroll

RSS sajak-sajak Isuur (meghatruh) loeweng S

Jangan asal copy paste ya..

isuur loeweng s komet

Arsip