Budaya Jujuran menjadi Momok Pemuda Kelas Menengah kebawah untuk Menikah.

Februari 16, 2009

Jujuran, bisa juga disebut mas kawin atau mahar dari pihak laki-laki kepada calon pengantin perempuan. Hampir di seluruh benua Indonesia kebudayaan itu seakan-akan ritual wajib untuk menuju jenjang pernikahan. Sebagai ritual peminangan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Tak terkecuali di ranah Borneo (Kalimantan Selatan). Di Kalimantan mahar atau mas kawin bisa disebut jujuran. Dan jujuran di Kalimantan Selatan besarnya kadang-kadang membuat pemuda akan tercengang, khususnya pemuda perantauan. Yang penghasilannya pas-pasan. Kenapa sebab?

Nominal yang harus dipenuhi oleh calon mempelai laki-laki cukup mahal bagi mereka yang ber-ekonomi menengah kebawah. Bagaimana tidak, jujuran dengan kisaran Rp. 5. 000.000 adalah nominal paling rendah, tanpa pesta. Terkadang pihak perempuan mematok jujuran antara 10 juta sampai 20 juta, bahkan mungkin ada yang lebih dari itu. Belum ditambah yang lain, seperti tempat tidur, kelambu, lemari, cincin, seperangkat make-up, seperangkat alat sholat(kalau ini wajib) dll. Ternyata ada sesuatu yang menarik apabila nominal jujuran tersebut sedikit, pasti undangan yang akan disebar juga sedikit. Kenapa seperti itu, menurut informasi yang saya dapatkan dari beberap koresponden, pesta perkwinan itu dibiayai dari jujuran pihak laki-laki, dan karena jujuran sedikit maka jumlah undangan juga sedikit. Sebab pihak perempuan tidak mau terlalu banyak memberikan tambahan biaya perkawinan tersebut(ironis bukan).

Di balik kenyataan seperti itu ada sesuatu yang menarik. Ceritanya begini, suatu kali ketika adik saya dipinang pemuda Kalimantan Selatan. Dengan perjanjian tawar-menawar disepakati jujuran sebesar Rp. 5.000.000, namun yang diberikan kepada keluarga saya hanya Rp. 2. 500.000. Pihak keluarga kami sampai saat ini tidak pernah mempermasalahhkan hal itu. Sebab yang paling penting menurut kami adalah pengantin bisa hidup rukun dan bahagia kedepannya. Itu sudah cukup bagi keluarga kami.

Dengan kenyataan seperti itu, keluarga saya tetap mengadakan pesta perkawinan yang layak, mengundang kerabat dan juga kenalan serta tetangga kampung dengan total undangan sekitar 800 orang. Kenapa kami berani, hanya dengan modal Rp. 2. 500.00 dikurang untuk menyewa pelaminan. Jujur saja (maaf tidak bermaksud menyinggung) kami mempunyai banyak kerabat dari jawa, mereka yang membantu meringankan beban keluarga saya. Dan tentunya jauh-jauh hari kami sekeluarga juga sudah menyiapkan biaya itu. Beberapa hari sebelum hari H mereka sudah bergiliran datang untuk membantu dengan kesadaran mereka masing-masing. Setelah bantuan itu dibuka oleh orang tua saya, karena keluarga saya membutuhkan isi di dalamnya. Ternyata kisaran bantuan mereka Rp. 500.000 x 20 keluarga, juga ada yang membawa beras, gula, telur dan lain-lain. Coba bayangkan apabila keluarga saya tidak punya kerabat dengan daerah asal yang sama, dan punya kesadaran tinggi untuk meringankan beban kami. Berapa hutang yang harus kami tanggung setelah acara perkawinan itu selesai. Dan yang paling mengagetkan adalah, setelah perhelatan selesai, kami sekeluarga berkumpul untuk membuka amplop yang diberikan tamu undangan. Seberapa besar sumbangan yang diberikan oleh para undangan, walaupun sebenarnya kami tidak terlalu mengharapkan itu. Mereka mau hadir saja kami sudah bersyukur. Setelah selesai dihitung hasilnya Rp. 1. 756.200’-. kami bersyukur atas rezeki yang berikan Allah kepada kami. Tapi yang paling memilukan keluarga kami adalah, ada 15 amplop yang kosong, dan ada sekitar 5 amplop yang isinya Rp.200’-.

Yang kami sayangkan kenapa harus dengan amplop kosong, kalau memang tidak ada yang dibawa lebih baik datang saja tanpa membawa apa-apa, toh kami tidak akan mengusirnya. Justru dengan sikap seperti itu kami merasa terhina, tapi tak apalah itu sudah berlalu.

Melihat kejadian itu, terkadang saya jadi berfikir bahwa, masyarakat di sini belum mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap orang lain. Yang mengakibatkan melambungnya angka mas kawin bagi calon pengantin laki-laki untuk membiayai pesta perkawinan. Bahkan mas kawin tersebut terkadang harus tawar- menawar untuk mencapai kesepakatan dari kedua belah pihak. Ketika sudah terjadi seperti itu, saya berfikir bahwa orang tua perempuan ini menjual anaknya atau mau mengawinkan anaknya(maaf ya) seperti orang berjualan bawang merah di pasar.

Hal itu menjadikan saya, yang hanya hidup pas-pasan takut untuk melamar perempuan asli Banjar. Saya takut tidak mampu untuk membayar mahar yang sebegitu mahal. Karena kedua orang tua saya hanya seorang penggembala sapi dan pedagang sayur. Bagaimana seandainya saya diminta mas kawin sebesar 10 juta atau lebih. Bagi saya lebih baik ngacir daripada harus mencari hutangan uang untuk menikah.

Bagaimana menurut anda?

Isuur Loeweng s

Directur Eksekutif Loeweng Production Banjarbaru.

Entry Filed under: tulisan sederhana. .

12 Comments Add your own

  • 1. ManusiaSuper  |  Februari 16, 2009 at 2:32 pm

    Anda mengutarakan kata hati saya…

    *menjura*

    Balas
  • 2. syafwan  |  Februari 16, 2009 at 2:43 pm

    kalau nunggu kaya dan berpenghasilan kapan saya menikah?

    Balas
  • 3. h3rsant  |  Februari 16, 2009 at 3:16 pm

    jujuran atau ga sebenarnya sama saja karena suatu pesta pernikahan itu perlu biaya dan biaya itu ada yg di minta langsung dari pihak laki2 (jujuran) atau secara gotong royong (jawa).

    Balas
  • 4. Yulian  |  Februari 17, 2009 at 1:37 am

    untung waktu saya menikah dulu tidak di patok jujuran….jadi lega

    Balas
  • 5. udin gambut  |  Februari 17, 2009 at 3:17 am

    Budaya jujuran pada dasarnya memang berakar pada kebiasaan masyarakat kita sejak dulu kala. dalam pengaplikasinnya dulu budaya jujuran adalah budaya raja-raja banjar untuk melangsungkan pernikahan.

    Pelestarian budaya ini memang terkesan mahal. Bagi mereka yang mampu alangkah baiknya melestarikan budaya ini. meskipun dalam Islam pernikahan tidak dinilai dari besarnya mahar seseorang.

    Balas
  • 6. khatulistiwa19  |  Februari 17, 2009 at 5:10 am

    Jujuran memang memberat kan tapi itukan kesepakatan dua keluarga.

    Balas
  • 7. soulharmony  |  Februari 17, 2009 at 1:44 pm

    siapkan duit lagi suuuurrr bakalan ada jujuran ke-3

    Balas
  • 8. Amed  |  Februari 18, 2009 at 7:32 am

    Mmm… intinya jujuran itu untuk biaya pesta kan? Nah pertanyaannya adalah, kenapa “budaya pesta perkawinan” yang besar-besaran itu, ada yang dengan wayang semalam suntuk, atau sewa gedung atau ballroom hotel juga tidak kita kritisi?

    Balas
  • 9. alveean  |  Februari 18, 2009 at 12:49 pm

    wah bener banget nih mas…

    mesti kerja keras kayaknya buat ngumpulin duit…

    huhuhu…

    Balas
  • 10. hajriansyah  |  Februari 19, 2009 at 11:37 am

    kenapa.. kada cukupkah hdk menjujuri nang hanyar ni? hehe.
    cari org jawa ja gin–aku dapat keturunan jawa (biniku skrang), tdk repot2 amat (kd bejujuran). sorry, ni kada SARAlah. hehe

    Balas
  • 11. deden  |  Juni 9, 2009 at 5:39 am

    setuju…!! HAPUSKAN JUJURAN DARI MUKA DUNIA INI!!!

    Balas
  • 12. wong jowo  |  Oktober 7, 2009 at 5:49 am

    waduhhh….mas,,, misalkan kalo tradisi JUJURAN itu dihapus malah nanti indonesia kurang 1 kebudayaan lagi… mask maudiberikan ke malaysia juga……… hehehehehehe

    Balas

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Lembaran

Sponsor Blog Ini




Jadwal KEhidupan

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Penaku

kata mereka

benkyongeblog di aku menuju darah dan air …
Rizal di aku menuju darah dan air …
wong jowo di Budaya Jujuran menjadi Momok P…
kejarsetoran di Hai Kenapa Harus PNS sih?
Jiwa Teater di Buku Tamu

tulisan teratas

sahabat-sahabat yg mampir

Blogroll

RSS sajak-sajak Isuur (meghatruh) loeweng S

Jangan asal copy paste ya..

isuur loeweng s komet

Arsip