Hanya Obrolan Saja.
Februari 19, 2009
Malam tidak begitu cerah memang, ketika saya dan beberapa kawan ngobrol di salah satu warung. Di kawasan pujasera minggu raya Banjarbaru. Semula saya dan kawan-kawan Bloger Banjarbaru datang ke kawasan minggu raya untuk makan malam.
Sesampainya di sana ternyata ada kawan lain yang juga biasa nongkrong di warung pak Haji. Tapi bukan sesama blogger, mereka adalah kawan yang bergerak di bidang LSM. Karena saya tidak hendak makan, saya memisahkan diri dengan kawan-kawan blogger, lantas membaur dengan kawan LSM tersebut. Saya dan Sandi Firly yang memisahkan diri dari kawan-kawan blogger. Akhirnya kami memulai ngobrol, yang awalnya hanya bertanya tentang kabar masing-masing sambil kami berjabat tangan. Berawal dari halaman oponi Radar Banjarmasin akhirnya sampai ke arah otonomi daerah. Wajar saja karena kawan yang membawa kami ngobrol termasuk seorang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah.
Bersama ramainya kawasan minggu raya, obrolan kami juga semakin seru. Yang menjadi topik pambicaraan adalah pembentukan negara federal di Indonesia. Hal itu diungapkan kawan yang LSM tadi, alasannya bahwa otonomi daerah tidak menguntungkan bagi daerah yang mempunyai sumber daya alam melimpah seperti Kalimantan. Bahkan menyulitkan bagi daerah yang sumber daya alamnya minim. “Bagaimana kita akan untung kalau pajak perusahaan yang ada di daerah kita sebagian besar masuk ke kas negara, bukan ke pemerintah daerah” ujarnya. ”Lantas bagaimana daerah yang tidak ada sumber daya alamnya, apakah itu tidak akan menyulitkan roda pemerintahan bagi daerah tersebut” tambahnya dengan semangat.
Memang bisa kita benarkan juga apa yang di sampaikan kawan tadi. Karena kita tahu bahwa semua perusahaan besar Batubara di kalimantan Selatan ini yang memberuikan ijin adalah negara. Tidak banyak kebijakan pemeritah provinsi yang ikut memutuskan. Akhirnya kita (baca masyarakat)tidak mendapatkan apa-apa. Yang kita dapatkan hanya debu, jalanan macet dan banjir. Artinya ketika negara yang memberikan ijin, negara pula yang mendapatkan pajak. Sementara kebijakan otonomi daerah adalah, pemerintah daerah harus membiyayai jalanya pemeritahan denagn PADnya sendiri. Hanya beberapa persen anggaran yang akan dibantu pemerintah pusat. Artinya otonomi daerah telah membuat penderitaan begi daerah yang tidak mempunyai sumber daya alam yang bisa menghasilkan pendapatan. Iya tidak.
Lalu apakah penting negara federal di Indonesia.
Bagaimana menurut anda?
Isuur loeweng s
Direktur Eksekutif Loeweng Production Banjarbaru.
Entry Filed under: tulisan sederhana. .
10 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1. didoy | Februari 19, 2009 at 3:39 am
emm… walah…walah…. pemda ma pusat neh,……
binnngggunnggggg……….
eitz… lam kenal boz..!!!
2. rezaldo | Februari 19, 2009 at 3:41 am
Itu mungkin akal-akalan pemerintah pusat aja untuk melepaskan tanggung jawabnya dengan alasan buat kemandirian daerah tp ternyata tetap aja keuntungannya lebih banyak diambil oleh pemerintah pusat….
3. aap | Februari 19, 2009 at 7:04 am
Ya..aturan pembagiannya saja perlu diperhitungkan lagi supaya daerah penghasil lebih banyak mendapatkannya supaya kekayaan tersebut benar dimanfaatkan buat kesejhteraan rakyat. Masalahnya apa benar dengan federal kita bisa sejahtera..! dengan sebuah otonomi saja sudah menimbulkan raja-raja kecil didaerah..! yang hanya menguntungkan kepentingannya..bagaimana nanti..?
4. yudirockinrule | Februari 21, 2009 at 7:39 pm
pkbr om, ciamik jg kasusnya ya?? salam
5. randualamsyah | Februari 22, 2009 at 2:06 am
Lho ?
Saya baru tahu kalo njenengan ini direktur…
iki tenan tho ?
6. blogsainulh | Februari 23, 2009 at 11:31 am
UNDANGAN DISKUSI SASTRA 28 FEBRUARI 2009
DI PERPUSTAKAAN UNLAM BANJARMASIN
Pada tahun 2008 ada sekitar 18 buku karya sastra yang terbit dan beredar di Kalimantan Selatan. Di tengah gairah penciptaan kreatif yang semarak itu, kritik begitu sepi. Kondisi ini bertolak belakang dengan apa yang pernah terjadi sekitar tahun 1990-an, saat penerbitan tak seramai saat ini tetapi gairah membicarakannya begitu semarak. Oleh karena itu, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra (HimbiSastra) FKIP Unlam bekerjasama dengan Tahura Media akan mengadakan diskusi sastra dengan tema “Revitalisasi Kritik Sastra Kalsel.” Ulun mengharap kehadiran dalam acara ini pada:
Hari: Sabtu, 28 Februari 2009
Pukul: 09.00 – 12.00 wita
Tempat: Sayap Kiri Perpustakaan Unlam Banjarmasin Lt. 3 (Belakang Gedung Rektorat)
Pembicara: Jamal T. Suryanata (mengupas buku Maitihi Sastra Kalsel karya Sainul Hermawan) dan Tajuddin Noor Ganie (Mengupas kondisi mutakhir kritik sastra di Kalsel). Konfirmasikan rencana kehadiran pian melalui blog ini. Terima kasih.
7. Jau | Februari 23, 2009 at 12:08 pm
Walah dalah! Teng meriki to Panjenengan. Kang, pripun MTsN Model Martapura?
8. baburinix! | Februari 26, 2009 at 3:18 am
sehsruusnya lebihbesar daerah daripada untuk pusat…biar cepat maju
9. agoengsolo | Februari 28, 2009 at 3:06 am
salam kenal mas isuur, podo2 bocah nggunung
10. omiyan | Maret 2, 2009 at 9:47 am
yang jelas efek dari otonomi malah disalahgunakan oleh sebagian oknum jadinya banyak raja raja kecil setelah otonomi….isitilahnya yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin