Museum Rumah Sejarah yang Ditinggalkan Masyarakat.

Maret 3, 2009

Museum, ketika membacaa kata itu kita akan segera menuju benda-benda sejarah yang penuh historis. Namun di balik itu adalah yang membuat kita mengelus dada, sebab tidak kita pungkiri, obyek wisata yang berupa Museum akan selalu sepi dari obyek wisata lainnya. Dewasa ini tempat wisata, seperti rumah makan, watter boom, agro wisata lebih menarik daripada museum yang sebenarnya menyimpan ilmu yang tidak ternilai.

Kenapa sebab?

Menurut pemikiran saya, museum sudah tidak menarik dengan kemasan yang statis, dari mulai berdirinya hingga kurun waktu yang lama. Dengan dasar seperti itu masyarakat merasa bosan untuk datang ke museum. Padahal dewasa ini masyarakat selalu saja mencari sesuatu yang baru sebagai pengobat kejenuhan sehari-hari. Kalau hanya mendatangi museum, dengan obyek yang tidak pernah berubah, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Kecuali mereka yang sedang mengadakan penelitian tentang benda bersejarah. Itupun hanya akan mendapatkan data kasar, sebab mereka tidak bisa melakukan penelitian secara detail, disebabkan fasilitas di museum untuk melakukan penelitian tidak memadahi, bahkan bisa dikatakan tidak ada.

Sebenarnya banyak hal yang bisa dikembangkan oleh pihak museum, tentunya untuk menunjang daya tarik masyarakat. Sebab kalau hanya itu-itu saja akan membosankan. Tentunya hal semacam itu tidak mudah dilakukan oleh pihak museum sendiri. Sebab museum merupakan sebuah lembaga pamerintah yang tidak mudah untuk memutuskan sesuatu secara sepihak. Lain halnya dengan tempat pariwisata milik swasta. Apapun yang akan mereka lakukan adalah hak mutlak tanpa harus banyak pertimbangan banyak lembaga di atasnya.

Dalam tulisan saya terdahulu, banyak trik yang saya ungkapkan sebagai daya dorong masyarakat mengunjungi museum. Namum hal itu tentunya juga akan dipertimbangkan oleh museum sendiri. Sebab, saya sebagai orang di luar lingkungan museum hanya mampu memberikan gambaran, namun tidak ada kewenangan untuk andil dalam pemutusan apa yang akan dikerjakan oleh lembaga tersebut.

Saya yakin, lima atau delapan tahun kedepan museum hanya akan menjadi sebuah kenangan. Ada alasan lain mengapa saya berpendapat demikian. Kota Jogjakarta yang notabene kota pariwisata masih mengandalkan kota lain dan hal-hal yang baru untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang. Hal semacam itu akhirnya dimanfaatkan pihak museum-museum yang ada di Jogjakarta untuk menggelar pertunjukan saat hari libur untuk menarik wisatawan datang. Kenapa museum yang ada di kalimanan Selatan tidak mencoba hal semacam itu. Kalau tidak ada terobosan yang membuat masyarakat merasa tertarik untuk datang ke museum, sama halnya museum bunuh diri pelan-pelan. Padahal barang-barang sejarah yang nilainya tidak terhingga itu, hanya berada di museum.

Kita lihat museum wasaka yang ada di samping sungai martapura, kenapa lebih ramai soto bawah jembatan daripada museum yang banyak nilai sejarahnya itu. Kenapa juga para tamu yang makan di warung soto bawah jembatan tidak tertarik untuk mengunjungi museum wasaka. Itu adalah sesuatu yang harus dipikirkan oleh pengelola museum wasaka. Menurut pengamatan saya, ada potensi besar untuk menarik para pengunjung soto bawah jembatan untuk mampir ke museum wasaka. Mengingat warga Kalimantan Selatan ini haus dengan hiburan. Dan jalan satu-satunya adalah mengadakan gelar atau event pada hari-hari tertentu.

Kemudian langkah selanjutnya adalah kerjasama dengan jasa periwisata”travel” untuk mempromosikan museum sebagai salah satu obyek wisata yang menarik. Sebab keberadaan trevel sangat menguntungkan bagi semua obyek wisata di suatu daerah. Melaluipaket-paket wiasata yang ditawarkan pihak travel. Di luar itu promosi pemerintah melalui pameran-pameran keluar daerah juga penting, walau kenyataan saat ini hal itu belum begitu berhasil. Museum seharusnya juga memanfaatkan momen visit 2009 ini untuk menarik wisatawan. Kalau di Kalsel berfokus kepada sungai sebagai obyek visit 2009, museum bisa membidik pameran barang-barang koleksi di siring sungai misalnya. Tentunya tidak semua barang koleksi dibawa, hal itu hanya sebagai pancingan saja untuk menarik wisatawan datang ke museum karena belum melihat semua koleksi saat pameran di luar museum.

Berbicara pariwisata di Kalsel, selama ini masih berkutat pada perencanaan dan pembicaraan saja. Tentunya hanya berorientasi pada potensi tanpa realisasi dan sinergi antar pelaku. Termasuk stakeholder yang tentunya sangat berkaitan di dalamnya. Seringkali masyarakat berjalan sendiri, asosiasi juga demikian. Seharusnya pemerintah sebagai fasilitator, regulator serta koordinator lintas pelaku pariwisata di Kalsel bisa mempunyai langkah promosi yang lebih terpadu.

Banyak langkah yang bisa dilakukan pemerintah maupun museum untuk berpromosi. Salah satunya adalah dengan menggunakan media cindera mata yang khas. Sebut saja kaos, gantungan kunci, pin dan lain-lain. Barang-barang itu adalah media promosi dengan dua keuntungan. Keuntungan yang pertama adalah pihak tempat wisata mendapatkan finansial dari penjualan cindera mata tersebut. Sedangkan keuntungan kedua adalah, pada saat cindera mata dipakai oleh yang bersangkutan secara tidak langsung obyek wisata dipromosikan olehnya.

Memang perlu pemikiran yang matang ketika akan melakukan spekulasi, sebab semua itu memerlukan anggaran. Namun kalau museum tidak berani memulai dan hanya bersikap mengalir saja, saya yakin benda-benda sejarah yang ada di dalamnya akan semakin dilupakan masyarakat.

Beberapa waktu yang lalu, ketika museum lambung mangkurat mengadakan seminar dengan mengangkat tema “Museum dalam menunjang pariwisata” ada sebuah ungkapan yang menarik perhatian saya. Namun sayang ungkapan “Museum Lambung mangkurat adalah obyek wisata unggulan yang patut dikunjungi” ternyata tidak menarik bagi masyarakat umum secara luas. Kebanyakan pengunjung yang datang ke museum adalah pelajar dan mahasiswa untuk kepentingan pembelajaran. Nah mengingat animo pelajar dan mahasiswa yang selalu membutuhkan museum sebagai tempat penelitian, seharusnya museum menyediakan fasilitas itu.

Museum juga dituntut mempunyai program untuk masyarakat secara luas dan terbuka, sebab masyarakat akan mendapatkan pengetahuan kebudayaan dari program tersebut. Yang saya tahu beberapa tahun ini museum lambung mangkuran mempunyai agenda tetap, yaitu ba’ayun maulud, namun yang saya tahu hanya sampai sebatas itu. Belum ada follow up-nya setelah acara itu di gelar. Akan lebih bermanfaat jika pihak museum mengadakan seminar tentang fungsi dan tujuan ba’ayun maulud itu sendiri. Sebab mengingat latar belakangnya museum adalah sebuah instansi yang unik dan sumber sejarah. Maka dari itu menurut pemikiran saya, kegiatan yang harus dilakukan oleh museum adalah membuat program yang unik dan bernilai sejarah. Membongkar masalah-masalah sejarah dalam bentuk diskusi dan seminar, sambil mensosialisasikan koleksi museum. Tentunya dengan manajemen yang berkualitas. Sebab untuk mencapai tugas mulia museum, sebagai pelestari benda dan budaya sejarah manajemen yang baik itu sangat penting. Langkah selanjutnya adalah mensinergikan pemikiran seluruh pamong museum dalam membuat program yang akan diajukan kepada dinas terkait. Sebab hal itu akan menjadi pendukung utama dalam melaksanakan program tersebut.

Dengan langkah itu saya yakin museum akan lebih banyak pengunjung yang datang, sebab hanya museum yang mempunyai program membongkar sejarah. Bagaimana menurut anda?

Isuur Loeweng S

Direktur Eksekutif Loeweng Production Banjarbaru

Daftar pustaka

- Google com

- Bulletin Bandarmasih nomor 23,volume 1 2009

- Buku besar Sejarah Banjar

- Ayatrohedi, SUNDAKALA, Buku cuplikan sejarah sunda.

- Nina h Lubis, Buku “Banten dalam Pergumulan Sejarah

Entry Filed under: esai. .

7 Comments Add your own

  • 1. nia  |  Maret 3, 2009 at 5:53 am

    Memang betul museum itu akan tinggal kenangan jika tidak dipikirkan bagaimana mempertahankan dan melestarikannya, semoga saja pihak² yang berwenang ttg ini bisa membuat terobosan untuk pengembangan museum itu ke depannya.

    Dan yang pasti, kita juga harus berusaha untuk menjaga keberadannya sur .. apakah perlu dibikin lomba posting ttg museum² di kalsel????

    Balas
  • 2. yoga  |  Maret 3, 2009 at 12:40 pm

    museum akan punah jika tidak ada yang melestarikannya . . .

    (sok tau) kkkkkkk

    Balas
  • 3. Khatulistiwa19  |  Maret 4, 2009 at 5:38 am

    Jangan cuman menghimbau tunjukan buktinya..

    Balas
  • 4. faiq  |  Maret 4, 2009 at 7:12 am

    saya kira, masalahnya adalah pada pengelolaan dan fasilitas yang disediakan oleh museum… apalagi koleksi museum yang sedikit juga bisa bikin malas ngunjungi..

    Balas
  • 5. Pengangguran Menulis Mimpi  |  Maret 5, 2009 at 12:51 am

    jadi sedih…

    Balas
  • 6. n1n1ng  |  Maret 5, 2009 at 2:34 am

    jarang-jarang orang peduli ma museum,..

    @nia,..
    bagus juga idenya tuh !

    Balas
  • 7. baburinix!  |  Mei 1, 2009 at 3:18 pm

    bagaimana museum kita di isi dengan koleksi pribadi bloger KKB? supaya menarik minat pengunjung!

    Balas

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Lembaran

Sponsor Blog Ini




Jadwal KEhidupan

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Penaku

kata mereka

benkyongeblog di aku menuju darah dan air …
Rizal di aku menuju darah dan air …
wong jowo di Budaya Jujuran menjadi Momok P…
kejarsetoran di Hai Kenapa Harus PNS sih?
Jiwa Teater di Buku Tamu

tulisan teratas

sahabat-sahabat yg mampir

Blogroll

RSS sajak-sajak Isuur (meghatruh) loeweng S

Jangan asal copy paste ya..

isuur loeweng s komet

Arsip