Archive for Oktober, 2008

Sebuah catatan Diary

Ini hanya tentang pengharapan, tapi sungguh aku hanya bagai camar yang kehilangan arah mata agin. Menerbang sayap-sayap yang hampir patah sebelum sempat berlabuh. Tapi aku akan selalu mengejar dermagamu, walau badai akan selalau menghempaskanku ke runcing karang-karang hatimu. Biarkan remuk membelah jiwaku yang semakin menua, asalkan aku mampu menisriskan kerinduan ini pada bayang tentangmu. Dan semoga saja malam tidak cepat berlalu, sebelum terlunaskan.

bila saja air mataku,

mamapu aku tiriskan di jiwamu

terasa lunas sudah kerinduan jiwa beku

yang lama menunggu bias tanpa pertanda

ingin rasa hati selalu membuka jendela hatimu

saat pagi menjelang

dan kita akan menyeduh kopi di beranda

tanpa anak-anak

menelanjagi hangat matahari

sebagai sebuah pertanda kerinduan

lalu kita akan membakarnya dengan bara yang lebih menggila

tentunya saat-saat kita di beranda

di pelataran kupu-kupu berjingkat sendu

mencumbu kamboja, yang wanginya telah kita cacap bersama

ketika rembulan tepat di atas ubun

dan gerimis tak lagi mampu membendung cahayanya.

sungguh

bila saja air mataku

mamapu aku tiriskan di jiwamu

lunas sudah kerinduan yang tertunda.

Tak ada yang kelu kecuali mereka yang merindu, sebagai sebuah angan yang selalu menjadi pencapaian dan penghancuran. Tentunya atas dirinya dan jiwanya yang malang, dan aku selalu saja menjadi salah satu pemandian kerinduan yang menumpuk-numpuk atas dirimu wahai kembang kamboja (maaf inisial tidak saya tuliskan). Malam menjadi tidak sempurna rasanya, ketika aku tak menatap bumi yang selalu masih berputar.

Lantas perlunasan seperti apa yang ingin kau kirimkan, andai saja aku pulang terlalu cepat. Sementara hari tak mampu lagi mengulang, merana bukan. Tapi aku hanya mampu berharap suatu saat akan kau kirimkan karangan bunga saat-saat malam mulai menaruh rindu kepada bulan, karena aku kan menunggumu di pelataran langit. Berlebihan bukan……tapi sungguh ini hanya sebuah pengharapan atas mimpi-mimpi yang tak lekas mau menjadi pasti.

Kapan kau akan melunaskan kepastian itu.

Oktober 11, 2008 at 7:14 am 131 komentar

Kisah Cinta Tanpa Bicara.

Aku tidak pernah menyangka perpisahan itu akan secepat ini. Hubungan yang sudah terjalin hampir lima tahun lamamnya. Kini tinggal kenangan saja. Ketika kami memutuskan untuk benar-benar berpisah__walau sebenrnya bukan sebuah keputusan, tetapi lebih pada sebuah kesalahan atas kebiasaan yang terlanggar. Malam menjadi sangat dingin sekali, hujan baru saja berlalu sore tadi. Sengaja kami berjanji di kedai yang sudah sangat kami kenal. Setiap kali bertemu, kami selalu bicara dari hati ke hati. Jarang sekali kami bercakap-cakap selayaknya orang-orang__dengan suara keras bahkan bisik-bisik hampir tidak pernah kami lakukan. Kami lebih suka bicara dengan cara seperti itu. Kami menganggap melakukan komunikasi secara langsung, membuat hubungan kami tidak akan pernah menimbulkan masalah. Tapi entah kenapa, hari itu aku ingin sekali bicara padanya, selayaknya percakapan yang sering dilakukan orang banyak. Teryata aku harus menyesal, dan itulah akhir aku menjalin hubungan cinta dengannya. Alasanya hanya satu karena aku telah melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan. Adalah berbicara. (lebih…)

Oktober 8, 2008 at 7:25 am 6 komentar


Sponsor Blog Ini




Jadwal KEhidupan

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

sahabat-sahabat yg mampir

  • 32.171 hits

RSS sajak-sajak Isuur (meghatruh) loeweng S

  • Kerinduan yang Tak Habis-Habis November 24, 2008
    Ibramsayah Amandit Hikayat bulan membelah duka kau hancurkan karang yang menjadi ombak lantas kau berteriak tentang hidup yang kekal sebagai tambatan menemu abadi. Seraya dzikir tetap mengalun dari tatih langkahmu menciumi senja yang luruh tiba-tiba kau pengelana di jalan yang lengang. Dari lintasan barito yang menangis kau kumandangkan rindu pada jiwa kelu […]
    meghatruh

Jangan asal copy paste ya..

isuur loeweng s komet